Hatshepsut : Firaun Wanita Pertama di Dunia

Firaun Wanita Pertama di DuniaWOWaneh.com – Firaun atau di dalam bahasa Inggris disebut dengan nama Pharaoh merupakan sebutan bagi semua pemimpin atau raja-raja Mesir.

Cerita mengenai kekejaman pemimpin Firaun zaman dahulu memang sangat melegenda, bahkan tertulis di dalam kitab suci Al-Qur’an, di mana dalam kisah tersebut Raja Firaun diceritakan memiliki watak yang kejam dan suka membunuh bayi laki-laki di seluruh negeri karena takut tahtanya tersaingi.

Di Mesir sendiri sebenarnya ada aturan bahwa seseorang yang akan menjadi pemimpin tidak melalui pemilihan oleh rakyatnya (sistem demokrasi), melainkan dengan melalui sistem keturunan.

Pangeran atau anak laki-laki dari raja akan secara langsung menjadi pewaris kekuasaannya begitu mereka dewasa.

Baca Juga : Kecelakaan Mengerikan Saat Pembuatan Film

Namun ternyata, sejarah pernah mengungkapkan bahwa di Mesir juga pernah dipimpin oleh Firaun wanita meski semua bukti-bukti dari fakta tersebut berusaha dilenyapkan dan ditutupi agar tidak tercium oleh sejarawan maupun sejarawati.

Nama dari Firaun wanita pertama yang memimpin Mesir adalah Hatshepsut.

Sebelum diangkat menjadi pemimpin Mesir wanita pertama, Hatshepsut merupakan istri dari Firaun atau Pharaoh Thutmose II.

Akan tetapi, Firaun Thutmose II kemudian meninggal sebelum anak laki-laki mereka, yaitu Thutmose III, masih sangat kecil dan belum memiliki cukup usia untuk bisa memimpin sebuah negara.

Oleh sebab itu, warga Mesir tidak mempunyai solusi lagi selain mengangkat Hatshepsut menjadi Firaun wanita pertama sepanjang sejarah peradaban Mesir saat itu.

Meskipun pada awalnya Hatshepsut menerima takdirnya menjadi penerus tahta dengan terpaksa, seiring berjalannya waktu ia berhasil memperkuat kedudukannya sebagai pemimpin Mesir.

Kepemimpinan Firaun wanita pertama ini sendiri sebenarnya sangat bagus, bahkan berhasil membawa Mesir menjadi negara yang lebih maju. Akan tetapi, hal ini juga menimbulkan banyak pro dan kontra di masyarakat.

Masyarakat Mesir pada saat itu menganggap pemimpin wanita bukan sesuatu yang bagus, bahkan membuat banyak penduduk Mesir maupun bukan merasa geram.

Anggapan itu didasari oleh pengetahuan mengenai “keharmonisan alam semesta”, di mana yang dianggap menjadikan alam semesta ini harmonis yakni jika suatu negara atau daerah dipimpin oleh seorang pria, dan bukan wanita.

Tak hanya karena itu saja, masyarakat lainnya juga tidak suka dengan ide Hatshepsut menjadi Firaun wanita di Mesir karena mereka khawatir dengan adanya hal tersebut akan membuat wanita-wanita Mesir yang lain ikut berusaha memperoleh kekuasaan juga.

Kegeraman masyarakat itulah yang kemudian membuat Hatshepsut berusaha mengubah image-nya yang sangat wanita menjadi lebih jantan dengan segala cara, mulai dari mengganti namanya dari Hatshepsut menjadi Hatshepsu, hingga memakai jenggot buatan di dagunya.

Firaun wanita pertama di Mesir ini mencoba meyakinkan warganya bahwa tidak akan ada masalah meskipun negara Mesir dipimpin oleh seorang Firaun wanita.

Ia juga ingin membuktikan bahwa kepemimpinannya tidak berpengaruh buruk terhadap maat (keharmonisan alam semesta).

Namun, semua usaha Hatshepsut tersebut sangat sia-sia karena selama kepemimpinannya, pandangan dan kekhawatiran masyarakat atas pemimpin wanita tidak berubah sama sekali.

Itu juga yang menjadi alasan kenapa fakta mengenai Hatshepsut sebagai firaun wanita pertama di Mesir coba untuk disembunyikan.

Dua puluh tahun setelah kematiannya berlalu, semua patung-patung dan bukti-bukti sejarah mengenai kepemimpinan Hatshepsut dihancurkan agar tidak ada orang yang mengetahui hal tersebut, akan tetapi para sejarawan dan arkeolog modern nyatanya berhasil menemukan kembali sejarah penting perjalanan Mesir yang telah disembunyikan berabad-abad tersebut.

Baca Juga : Kutipan-Kutipan Puisi Sapardi Djoko Damono Paling Menggugah Relung Hati

Loading...

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *