Kisah Dan Asal Mula Bangkai Hidup Di Taman Nasional Baluran

Kisah Dan Asal Mula Bangkai Hidup Di Taman Nasional Baluran – Di Kabupaten Situbondo Jawa Timur ada sebuah tempat yang digembor-gemborkan sebagai miniaturnya afrika di Indonesia.

Tempat tersebut bernama Taman Nasional Baluran. Letaknya di wilayah Banyuputih Situbondo. Di area Taman Nasional Baluran tersebut terdapat hutan mangrove, hutan pantai, hutan rawa, sabana, hutan pegunungan bawah dan juga hutan  hijau yang tak pernah kering sepanjang tahun.

Didalamnya terdapat kurang lebih 444 jenis tumbuhan, 155 jenis burung dan 26 jenis hewan mamalia.

Ada sebuah kisah menarik yang terdapat di Taman Nasional Baluran dan menjadi perbincangan masyarakat sekitar hingga saat ini.

Baca Juga : Negara Yang Pernah Ada Namun Hilang Dalam Peta Dunia

Yakni tentang adanya bangkai hidup yang ada di Taman Nasional Baluran. Penyebutan kata bangkai biasanya merujuk pada makhluk hidup yang sudah tidak bernyawa (mati) dalam kurun waktu yang agak lama dan menimbulkan bau busuk.

Namun penyebutan bangkai yang hidup (tidak mati) di Taman Naional Baluran ini benar-benar ada dan ada kisah tersendiri yang melatar belakanginya.

Seperti yang dituturkan oleh Pak Kasman, salah seorang penduduk setempat.  Alkisah, pada masa lampau, pulau Jawa dan Bali adalah berupa satu kesatuan daratan.

Tidak terpisah seperti sekarang.  Namun daratan tersebut diperintah oleh 2 raja yang berbeda yang merupakan sepasang kekasih. Mereka adalah Raja Diwotocengkar dari Jawa dan Ratu Naga Baruna dari Bali.

Awalnya kedua raja tersebut saling mencintai. Kehidupan mereka yang sangat harmonis menimbulkan dengki dan iri pada sebagian orang.

Kecantikan Ratu Naga Baruna membuat banyak lelaki terpikat dan ingin mengacaukan hubungan ratu tersebut dengan Raja Diwotocengkar. Berbagai cara dilakukan untuk memisahkan sepasang kekasih tersebut.

Akhirnya Ratu Naga Baruna terperdaya dan berhasil dihasut. Sang Ratu  memutuskan hubungan percintaannya dengan sang Raja. Raja Diwotocengkar merasa marah dan kecewa, dia tidak terima dengak keputusan sang ratu.

Raja Diwotocengkar kemudian menancapkan sebuah tongkat sakti ketanah. Tanah yang ditancapi tongkat tersebut terbelah.

Semakin lama belahan tanahnya semakin lebar dan pada akhirnya memisahkan kedua kerajaan. Tanah yang terpisah itu, konon sekarang menjadi Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Terpisahnya dua kerajaan itu, konon juga membuat sapi-sapi yang mendiami kedua kerajaan itu terpisah juga. Ribuan sapi tertinggal di Kerajaan Bali, sedangkan di Pulau Jawa hanya tersisa 3 ekor sapi saja.

Ketiga sapi yang ada di pulau Jawa masing masing terdiri dari 2 ekor sapi jantan dan 1 ekor sapi betina. Karena sapi betina hanya seekor saja, maka kemudian 2 ekor sapi jantan tersebut berkelahi memperebutkan sapi betina.

Akibat perkelahian yang sengit, kedua sapi itu sama-sama luka parah dan akhirnya tidak bisa bertahan hidup.

Sapi betina begitu berduka dengan kematian 2 sapi jantan tersebut. Sapi betina berdoa pada dewata memohon agar menghidupkan salah satu sapi jantan untuk menemaninya. Permohonan itu terkabul. Salah satu sapi jantan bisa hidup kembali.

Sampai saat ini, jika sapi jantan yang ada di Taman Nasional Baluran dipotong, maka bau bangkai akan langsung tercium dari dagingnya, padahal baru beberapa detik dilakukan pemotongan.

Namun jika sapi betina yang dipotong bau tersebut tidak ada. Itulah kenapa ada bangkai hidup di Taman Nasional Baluran. Sapi jantan disana disebut juga dengan bangkai hidup.

Baca Juga : Kisah Kudeta Paling Heboh Sepanjang Sejarah Dunia

Loading...

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *