Pink menurut sejarah adalah warna pria

Sejarah dan Asal Usul Warna Pink – Pink adalah warna yang menurut sejarah di abad 20 dan awal 21 diasosiasikan secara kuat dengan “sifat perempuan”.

Hubungan ini sangat kuat dimana banyak masyarakat memiliki anggapan tabu pada pria yang menyukai warna pink secara umum atau menggunakannya.

Pink adalah warna merah pucat dan merupakan nama dari sebuah bunga yang memiliki warna demikian, pink, yang dikenal juga dengan Dianthus.

Saat ini pink secara budaya dilihat sebagai lawan dari warna biru atau biru muda, dimana warna tersebut diasosiasikan dengan pria atau maskulinitas.

Tetapi bagaimanakah sebenarnya?

Menurut beberapa sumber, wanita memiliki kecenderungan untuk lebih tertarik dengan warna pink.

Menurut beberapa teori, puluhan bahkan ribuan tahun lalu, ketika pria berburu dan wanita mengumpulkan buah buahan (tetapi tidak ada bukti nyata hal ini berkaitan secara langsung), wanita diperlukan untuk memetik berry cepat dan mudah, dimana warnanya adalah merah dan pink, dan oleh karenanya hal tersebut membentuk insting alam adanya ketertarikan terhadap warna tersebut.

Sedikit menengok sejarah ke belakang membuat kita mengerti bahwa teori tersebut tidak valid.

Kelompok ilmuwan lain menyatakan bahwa pria sesungguhnya memiliki daya lihat yang tajam, dimana hal itulah mengapa pria mengatakan lebih berbakat dalam membuat kreatif visual, bisa ditunjukkan dengan banyaknya designer, pekerja seni, sutradara film, dll mereka adalah pria.

Lebih dari itu , cukup mengejutkan yang ditemukan pada sejarah, bahwa warna pink sebenarnya diasosiasikan dengan maskulinitas.

Teori masa kuno menjelaskan di tahun 1800-an, meskipun banyak anak anak yang menggunakan baju warna putih, sangat wajar untuk anak laki-laki memakai pakaian warna pink dan anak perempuan memakai warna biru.

Bahkan di 1794, Xavier de Maistre, pengarang asal Perancis mengatajan dalam kerjanya, “A Journey Around My Room” bahwa dia merekomendasikan pria untuk mengecat kamar mereka dengan warna pink dan putih karena mampu membangkitkan suasana hati.

Lebih dari itu, di abad ke 19, sangat umum orang tua mendandani anak mereka, terlepas anaknya laki-laki atau pun perempuan, dengan baju terusan (dress).

Alasannya adalah lebih mudahnya mengganti popok daripada anak menggunakan celana.

Ketika memiliki anak laki-laki yang semakin besar, banyak juga orang tua yang mendandaninya seperti anak perempuan. Banyak lukisan yang dibuat terlihat sebuah keluarga dengan dua anak perempuan atau lebih tapi nyatanya salah satu anak atau lebih adalah seorang anak laki-laki.

Jadi sejak kapan muncul aturan tidak tertulis bahwa laki laki seharusnya memakai biru dan perempuan seharusnya memakai pink?

Dan bagaimana bisa pria memakai warna pink menjadi tabu?

Sejak 1920an sebenarnya umum untuk laki laki memakai baju pink dan perempuan memakai baju biru.  Meskipun hal ini tidak populer saat ini dan banyak orang mulai mengabaikan tipe aturan seperti itu.

Satu dati banyak referensi yang muncul paling cepat saat itu mengenai warna biru adalah untuk laki laki dan juga sebaliknya muncul di Juni 1918, ketika sebuah publikasi perdagangan yang disebut “Earnshaw’s Infants’ Department” tertulis bahwaSecara umum diterima aturan pink untuk laki laki dan biru untuk perempuan.

Alasannya, pink merupakan warna kuat yang lebih cocok untuk laki laki, sedangkan biru yang lebih lembut dan cantik cocok untuk perempuan”

Beberapa tahun kemudian di 1927, majalah time merilis diagram yang menjelaskan hubungan antara warna dan gender, berdasarkan pedagang terkenal di US seperti Best & Co., Halle’s or Marshall Field.

Diagram tersebut menyarankan orang tua memakaikan anak laki lakinya dengan warna pink dan anak perempuan dengan warna biru.

Meskipun begitu, itu tidak lama setelah kemudian semuanya berubah. Alasan utamanya murni adalah faktor ekonomi.

Sampai saat ini, pasangan orang tua yang memiliki anak kedua, anak tersebut akan memakai baju bekas kakaknya, jika anak tersebut memiliki jenis kelamin yang bebeda, dia membutuhkan baju yang baru.

Warna dan gender diasosiasikan mengikuti tren pada tahun 1940an, tanpa alasan yang jelas tetapi saat itu pink sudah diasosiasikan dengan sifat perempuan.

Secara sederhana menyimpulkan bahwa laki laki lebih suka warna biru dan perempuan lebih suka warna pink, tetapi studi pada saat itu menunjukkan kedua jenis kelamin tersebut lebih memilih warna biru disbanding pink.

Baca Juga : Benda-benda aneh yang pernah diambil dokter dari Tubuh Manusia

Loading...

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *