Sejarah dan Asal Usul Suku Pengelana Di Dunia

Sejarah dan Asal Usul Suku Pengelana di Dunia – Di seluruh dunia masih banyak terdapat suku-suku nomaden atau suku yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Suku-suku ini biasanya mendiami suatu wilayah yang cukup besar seperti area hutan, savanna, gurun dan sebagainya.

Sebagai suku pengelana, mereka akan hidup secara berkelompok dan menjadikan kelompok tersebut sebagai rumah atau setidaknya satu rukun warga yang berjalan ke mana saja.

Jika terdapat satu tempat yang dianggap strategis di suatu daerah, mereka akan menetap untuk sementara waktu.

Namun, ketika daerah tersebut dianggap sudah tidak potensial, mereka akan pindah untuk mencari lokasi baru.

Inilah sejarah dan asal usul suku pengelana yang ada di dunia:

Suku Bushmen – Wilayah Selatan Afrika

Berada di wilayah benua Afrika, membuat suku Bushmen tidak kesulitan untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Saking luasnya, mereka sempat terlihat hingga ke perbatasan negara lain. Seperti Angola, Zimbabwe hingga Botswana.

Baca Juga : Kisah Peternakan Manusia Di Texas Menggegerkan Dunia

Gaya hidup yang selaras dengan alam liar membuat mereka tidak pernah tertarik mencoba interaksi dengan dunia luar.

Suku Bushmen pernah diangkat ke layar kaca dalam film berjudul “Good Must Be Crazy”.

Suku Nukak’Maku – Kolombia

Suku Nukak-Maku dahulu merupakan sebuah kelompok pengelana yang cukup banyak anggotanya.

Terdiri dari generasi keluarga yang turun-temurun. Akan tetapi, pada sekitar tahun 70-an sempat dinyatakan punah karena tidak pernah terlihat lagi.

Untungnya, pada era 80-an, suku Nukak-Maku terlihat lagi di sekitar hutan perkebunan kola. Namun sayang, jumlah anggotanya semakin sedikit.

Faktor penyakit serta kurangnya bahan makanan membuat suku Nukak-Maku semakin banyak menghadapi kesulitan di hutan.

Suku Qashqai – Iran

Suku Qashqai adalah suku yang berasal dari Iran. Mereka adalah sekelompok orang pengelana yang berpindah tempat dengan mengandalkan ekonomi dari menggembala ternak.

Domba, kambing, kuda dan keledai yang jumlahnya ratusan sering dibawa untuk dijual kembali.

Lokasi yang berpindah-pindah biasanya mengikuti adanya bahan makanan dan air untuk ternak mereka.

Selain itu, para wanita suku Qashqai juga sangat pandai membuat kain tenun yang indah untuk diperdagangkan.

Suku Gabra – Kenya & Ethiopia

Suku Gabra adalah suku pengelana yang menjadi penggembala unta. Mereka berpindah lokasi dari negara Kenya ke negara Ethiopia untuk mencari sumber makanan dan air bagi unta-unta  atau ternak mereka.

Ternak unta dianggap potensial untuk dijadikan ternak suku pengelana karena memiliki daya tahan yang sangat baik terhadap cuaca ekstrim di gurun.

Kuchi – Afganistan

Suku pengelana dari Afghanistan ini merupakan suku satu-satunya yang bertahan hidup di daerah konflik Afghanistan.

Meskipun tidak pernah berminat dengan politik, tetap saja suku Kuchi juga terkena imbas akan peperangan dan menjadi korban atas konflik yang ada.

Suku Kuchi yang sudah minim populasi masih saja mendapat tekanan dan dibantai oleh Taliban.

Selain itu, suku Kuchi juga mendapat gangguan dari orang-orang yang ada di sekitar pertambangan minyak.

Jika dahulu populasi suku Kuchi bisa mencapai hingga 2 juta jiwa. Maka, tidak heran jika kini semakin merosot drastis hanya sekitar ratusan orang.

Bahkan, beberapa dari mereka memilih untuk meninggalkan kehidupan mengembara dan membuat rumah secara permanen atau menetap.

Di Indonesia sendiri masih ada suku-suku pengelana yang tinggal di hutan seperti suku Anak Dalam.

Keberadaan mereka di dalam hutan, tidak pernah merusak atau mengganggu. Justru suku-suku ini menjaga kelestarian hutan.

Baca Juga : Hewan-hewan Berikut Ini Diyakini Memberikan Keberuntungan

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *